Selasa, 20 September 2016

Captain America: Civil War (2016) BluRay + Subtitle Indonesia

Diposting oleh ADMIN pada 06:49, 09-Sep-16 • Di: Action Movies , Adventure Movies ,MP4 , Sci Fi Movies , Thriller Movies , [Movies 2016]

Captain America: Civil War
(2016)

Quality: BRRip, HDTC & HDCAM

captain-americabr-civil-w.jpg
Released
6 May 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English | German | Russian | Romanian
Genre
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Anthony RussoJoe Russo
Writers
Christopher Markus(screenplay), Stephen McFeely (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Chris EvansRobert Downey Jr.Scarlett Johansson | See full cast & crew »
Ratingimdb-icon.gif8.6/10

Review:
Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain America dan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai pembuka fase ke-3 MCU namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan dalam The Avengers: Age of Ultron.

Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria.

Tentu saja ini kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey Jr.) memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya, Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna, Austria.

Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.

Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evil dengan membawa banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksi superhero vs superhero seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah abu-abu.

Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah. Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1 dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya. Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi, seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat. Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup usia.

Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers. Tentu saja dibutuhkan alasan kuat mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam. Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen McFeely tidak menggampangkannya begitu saja.

Benturan ideologi berbeda antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan. Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi heroiknya di Age of Ultron lalu.

Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton akan disuguhkan sebuah bromance antara Rogers dan Bucky sementar di tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.

Ya, Civil War memang punya konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU; Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil War kehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebanting telak setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup emosional.

Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villain misterius Helmut Zemo yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel. Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar.

Setiap set-pieces dihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi, momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun kemudian.

Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buat Civil War setelah Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi yang memukau.
Sumber
bb81c3e55bdc51084d5ce779918de218afca6c2e

Captain-America-Civil-War-MTV-Movie-Awar

captain-america-civil-war-movie.jpg



Download Film Captain America: Civil War (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality: 
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 27 Menit - 41 Detik
Ukuran: 433 mb
SS:



Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/jn04qvy9qrtv
TF: http://www.tusfiles.net/8mje9dti6cqh
UF: https://sht.io/kd6l
UI: https://sht.io/kd6k
SF: https://sht.io/kd6j
UP: http://uppit.com/ukdnpsi64drp
Download Film Lebih Cepat Gunakan UCWEB Versi Terbaru klik!

Subtitle: br-cptnarkcvlwar-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:
 Rizainter

Jumat, 16 September 2016

Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BluRay + Subtitle Indonesia



Review:
Penggunaan CGI dalam film blockbuster perlahan mulai sama seperti basic melody dan tipikal builds up yang digunakan di Electonic Music Dance, all sounds the same, all feels the same. Pemain di industri harus semakin cermat dalam menggunakan CGI, mereka harus menciptakan sebuah gebrakan yang luar biasa dari segi kualitas jika murni ingin “menjual” CGI, atau melakukan cara sederhana dengan menciptakan kombinasi antara CGI dan cerita yang saling melengkapi satu sama lain. Dua hal tersebut kurang berhasil dilakukan dengan baik oleh film ini, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, another forgettable boom-boom-bang-bang project from the producer of Transformers.

Satu tahun setelah pertempuran mereka melawan The Shredder (Brian Tee) dan Eric Sacks, Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher), dan Donatello (Jeremy Howard) masih menyembunyikan identitas asli mereka dan mempersilahkan Vern Fenwick (Will Arnett) untuk mengambil kredit atas kesuksesan yang mereka raih. The Shredder ternyata sedang menyusun rencana untuk lepas dari tahanan pemerintah, dibantu ilmuwan Dr. Baxter Stockman (Tyler Perry) proses transfer antar penjara yang dikomandoi prison officer Casey Jones (Stephen Amell) ia gunakan untuk mewujudkan rencananya tersebut. Celakanya ketika TMNT mencoba menghalangi rencana tersebut proses teleportasi yang dilakukan oleh Stockman membawa Shredder bertemu dengan panglima perang alien, Krang (Brad Garrett).

First of all, review ini akan dinilai dari sudut pandang penonton dewasa. Mengapa? Karena dua tahun lalu ketika selesai menyaksikan Teenage Mutant Ninja Turtles ada seorang rekan yang berujar bahwa film tersebut dibuat untuk anak-anak bahkan untuk penonton usia dini. No, itu gila, meskipun PG-rated film tersebut tidak memenuhi standar film keluarga yang ramah. Hal tersebut kembali terjadi di Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, ketika di bagian awal kita sudah dibawa untuk menyaksikan sex appeal Megan Fox lengkap dengan pakaian sekolah ala Jepang, dari sana penonton paham di mana target utama yang diincar oleh film ini. Sayangnya meskipun menetapkan target dengan begitu meyakinkan sayangnya film ini tidak tampil sama meyakinkannya ketika membawa penontonnya bergembira bersama, memanfaatkan karakter untuk menyajikan berbagai aksi gila tanpa diiringi konsistensi daya tarik yang mumpuni.

Itu alasan mengapa di awal menyebut ini sebagai kemasan terbaru yang akan begitu mudah terlupakan, karena seperti film pertama di mana TMNT di bawa berseluncur di gunung bersalju jika seminggu lagi mencoba mengingat kembali tentang TMNT 2 maka hanya akan bisa menjawab adegan berseluncur di udara. Selebihnya? Sebuah paket action-adventure yang miskin pesona dan jiwa meskipun memiliki ide yang menarik. Isu tentang proses menerima dan upaya meruntuhkan perbedaan antara TMNT dan manusia itu sebenarnya punya potensi besar, tapi sayangnya ketimbang dimanfaatkan itu hanya jadi pemanis yang terlupakan karena sutradara Dave Green (Earth to Echo) serta writer Josh Appelbaum dan André Nemec lebih fokus pada bagaimana membentuk berbagai set di mana akan digunakan untuk membuat penonton terpukau lewat tampilan visual.

Ini bukan kelas hardcore ketika berbicara sumber utama materi film ini, comic book Teenage Mutant Ninja Turtles, namun sepertinya akan lebih menarik jika busur cerita dikembangkan sedikit lebih jauh saja sehingga TMNT: Out of the Shadows punya kepentingan yang menarik yang eksis di pusat cerita. Secara kualitas sinopsis standar tapi cerita terasa sedikit lebih menarik dari film pertama, karakter juga masing-masing punya momen yang menarik, tapi TMNT: Out of the Shadows tidak berhasil membentuk setup yang kuat untuk menopang berbagai ide yang ia punya, proses penerimaan, dendam pribadi, adegan kejar-kejaran, mondar - mandir bersama Krang, hingga hal sepele semakin teamwork, mereka perlahan semakin terasa kurang menarik akibat tidak dirakit dengan irama yang pas. Di jaman ketika CGI perlahan menjadi sesuatu yang normal diterapkan dalam hiburan visual sepenuhnya mengandalkan CGI yang hadir tanpa gebrakan luar biasa untuk terus hidup bukan sebuah kebijakan yang sehat, hal yang dilakukan oleh film ini.

Lantas apakah TMNT: Out of the Shadows adalah sebuah hiburan yang buruk? Tidak, tapi jika dibandingkan dengan ini tidak memberikan sebuah lompatan besar dari kualitas film pertamanya. Jika kamu penonton yang mudah dipuaskan oleh CGI maka film ini akan menjadi kue yang sangat nikmat, TMNT: Out of the Shadows tidak pernah terasa “mati” hingga akhir berkat kualitas motion capture serta CGI yang mengesankan, interaksi antara karakter animasi kura-kura (mereka bukan penyu?) dengan karakter manusia dieksekusi dengan baik, meskipun sayangnya karakter manusia terasa datar, hanya Laura Linney dan Stephen Amell (Arrow) yang tampil mumpuni. Dialog juga punya peran mengapa pesona karakter tidak maksimal, mereka tumpul, bahkan sulit untuk merasakan sebuah ancaman serius dan berbahaya dari karakter antagonis, sebuah proses merakit yang dilakukan Krang tidak pernah mampu mengintimidasi.

Membawa berbagai topik yang menarik untuk menyokong tujuan utama mereka yang masih sama yaitu menyajikan pesta visual gerak cepat, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows terasa terlalu biasa, kemasan boom-boom-bang-bang yang kurang mampu meninggalkan impresi yang kuat dan membekas, sama seperti film pertamanya. Ketika menyajikan momen lucu TMNT: Out of the Shadows tampil tidak terlalu buruk, namun ketika ia mencoba mendorong materi yang lebih serius sebagai penyeimbang kombinasi yang tercipta terasa kaku. Tidak segar, terlalu terburu-buru, kerap kali terasa canggung, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows gagal memaksimalkan potensi yang ia miliki untuk membawa waralaba ini naik satu tingkat lebih tinggi.



Download Film Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality: 
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 52 Menit - 07 Detik
Ukuran: 326 mb
SS:


Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/mpi8cn0noj0o
TF: http://www.tusfiles.net/hg2t21cus2l9
UF: https://sht.io/keen
UI: https://sht.io/keeo
SF: https://sht.io/keep
UP: http://uppit.com/3qplwgfpm4z4
Download Film Lebih Cepat Gunakan UCWEB Versi Terbaru klik!

Subtitle: br-tmnt2-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: 
 seaZ